Skip to main content

Posts

Showing posts with the label CERITA

Beasiswa LPDP: Mengeja Kemungkinan dengan Keyakinan

Setelah bertahun-tahun blog ini tidak terjamah, saya akhirnya menulis lagi. Akhir-akhir ini saya sering blogwalking tentang berbagai cerita pengirim lamaran beasiswa LPDP. Menarik dan informatif, sehingga saya pun ingin bercerita hal yang sama dengan sudut pandang saya. This is based on true story. Ini berdasarkan pengalaman saya yang mengikuti seleksi periode 3 tahun 2015 yang diselenggarakan sejak April-September. Sebelum Apply Lpdp… Saya ingin share cerita pengalaman saya apply beasiswa LPDP. Beasiswa dari pemerintah yang lagi hits di kalangan pemuda sekarang. Selama kuliah S1, saya tidak pernah punya pengalaman apply beasiswa. Pengetahuan saya seputar beasiswa juga minim. Cuma informasi beasiswa LPDP yang saya baca rigid setelah lulus S1. Saya juga sempat menghadiri seminar sosialisasi beasiswa LPDP di kampus saya. Sekedar flashback, saat pengadaan seminar tersebut ternyata ada sistem kuota yang dijalankan secara o...

Dunia Baru di Surabaya City Guide

Enam hari yang lalu, saya memulai rutinitas baru sebagai wartawan magang di Surabaya City Guide, sebuah media yang merupakan bagian dari Suara Surabaya Media. Surabaya City Guide atau lebih akrab disebut SCG adalah sebuah majalah tak berbayar (free magazine) yang terbit setiap bulan. Majalah berukuran 17 x 24 cm (lebar x tinggi) ini terdiri dari 60 halaman full color yang berisi tentang info kuliner, event , hotel, fenomena unik di Surabaya, informasi transportasi (darat, laut dan udara), dan informasi menarik tentang kota Surabaya dan sekitarnya. Distribusi majalah ini disebar ke 211 pickup point seperti rumah makan, hotel, toko buku, rumah sakit, tour & travel, mall, bandara, dan lain sebagainya di kota Surabaya. Saya mulai magang di tanggal pertama bulan Juli kemarin bersama Ocha, teman sekelas kuliah saya dan satu lagi, Bob. Ia mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Katholik Petra Surabaya. Saya dan Ocha dispesifikkan menjadi penulis dan Bob sebagai fotografer di SC...

Perempuan itu HTI…

" Perempuan itu membenarkan jawaban saya lalu kembali berbicara panjang lebar. Sesekali ia menyelipkan ayat-ayat Al-Quran dalam pembicaraannya berikut terjemahan serta makna yang ia yakini. Saya hanya manggut-manggut tak bisa membantah karena saya tidak hapal Al-Quran. " Jam menunjukkan pukul 10.05. Hari Kamis ini saya berniat melanjutkan urusan magang saya di kampus. Saya pergi menuju lantai enam, ke ruang Pembantu Dekan, tempat berkas saya menunggu ditanda tangani. Namun keberuntungan tidak berpihak pada saya. Setelah saya cek, berkas-berkas saya masih bersih, tak ada coretan, tak ada tanda tangan dari beliau. Akhirnya, saya memutuskan untuk menunggu Pak Sanggar, begitu beliau disapa, di lantai satu. Lantai satu tempat akses jalan menuju lantai berapa pun, karena disana tersedia lift. Pak Sanggar tidak mungkin tidak menggunakan lift, pikir saya. Saya pun memilih tempat duduk di depan lift tersebut. Selisih satu bangku di samping saya, ada seorang perempuan berk...

Kavling 10, Media Perdana, Tanggung Jawab Kedua

Sebelumnya, aku telah menceritakan tentang organisasi yang menjadi kesibukanku selain mengenyam mata kuliah di kampusku. Yah, Unit Aktivitas Pers Kampus UB, yang lebih dikenal dengan kavling 10. Hampir setahun. Agenda diskusiku di kavling yang pada awalnya hanya tiba di setiap hari jumat, kini menjadi setiap hari. Bukan diskusi lagi pada tepatnya, namun lebih formal disebut rapat. Bukan lagi rapat yang diikuti oleh semua anggota, namun diikuti oleh pengurus internal kavling 10. Yah, benar, aku telah menjadi pengurus. Dipilih langsung oleh Pemimpin Umum, aku yang belum setahun berkontribusi di organisasi ini, diberi kepercayaan untuk meng-handle media. ‘Kavling 10’ nama media itu. Media yang baru pertama kali dilahirkan di kepengurusan kali ini. Media berbentuk bulletin, didistribusikan ke seluruh fakultas setiap dua bulan sekali. Hari pertama pasca menyandang jabatan berat sebagai pemimpin redaksi, dengan bekal pas-pasan, rapat redaksi perdana aku ...

Tentang Kavling, Tentang Keluarga Keduaku

Pamflet Open Recruitment UAPKM UB tahun 2010 Entah dimulai darimana cerita tentang sebuah organisasi yang menjelma menjadi keluarga keduaku kini. Yang aku ingat, mata dan pikiranku terpaku pada sebuah pamflet abu-abu berlogo jari telunjuk mengacung keatas, diatasnya bertuliskan makna dari pemasangan pamflet itu : Open Recruitment Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa UB Kavling 10. Pamflet itu terpasang di suatu sudut ruangan, berlomba dengan pamflet-pamflet lain di jajaran ruang-ruang kecil, yang mereka kenal baik dengan sebutan kavling. Kavling 10, sekretariat bersama mahasiswa yang menerjunkan dirinya dalam kecimpung organisasi yang berbasis pada jurnalistik, disitulah tempatku memutuskan diri untuk menyerahkan formulir dan tugas wajib yang mereka syaratkan untuk mahasiswa pendaftar. Kavling ini, yang ada di benakku pertama kali, terkesan sempit. Tumpukan koran langganan mereka meninggi hingga menyentuh batas bawah whiteboard, sebuah mading yang terpasang sekedarnya dipenuhi b...