Skip to main content

Posts

Showing posts with the label NEWS COVERAGE

Ospek Brawijaya dalam Lensa Kamera

Zona Bersih dari Fotografer    (30 Agustus 2012) Foto diambil ketika kegiatan pengenalan kehidupan kampus Universitas Brawijaya usai, tahun lalu. Plang ini merupakan peringatan bagi setiap fotografer yang akan mengambil gambar di kawasan 'terlarang' ini. Lokasi: parkiran Politeknik Negeri Malang (sekarang diambil alih oleh UB menjadi parkiran PTIIK) The Big Blue Banner (31 Agustus 2012) The  Big Blue B anner dari kain yang dibuat para panitia untuk menyambut mahasiswa baru Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. 1...2...3...TEKNIK!!! merupakan yel-yel kebanggaan mahasiswa Fakultas Teknik yang dipamerkan dari tahun ke tahun Meneriakkan Jargon (30 Agustus 2012) Seluruh panitia FISIP Universitas Brawijaya berbaris di trotoar depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis untuk menyuarakan jargon FISIP TANGGUH SATU PERJUANGAN! demi menumbuhkan rasa bangga dalam diri mahasiswa baru FISIP. Macet (30 Agustus 2012) Ribuan mahasiswa baru berhenti sejenak dalam perja...

HOUSE OF SAMPOERNA: Mengawetkan Megahnya Sejarah Rokok

Museum House of Sampoerna (Gambar diambil dari architectureforthefuture.blogspot.com) Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin Peringatan ini tidak akan kita temui ketika masuk di museum rokok House of Sampoerna, karena di tempat ini pengunjung akan dimanjakan oleh berbagai warna sejarah perjalanan tembakau dan rokok Sampoerna di Indonesia. Museum yang diresmikan sejak 9 Oktober 2003 ini berada di kawasan Surabaya Lama. Bangunan museum tersebut sudah berdiri sejak lama. Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna membeli kompleks museum itu untuk rumah keluarga dan pabrik pertama pada tahun 1932. Liem Seeng Tee bersama istrinya bermaksud menjadikan kompleks House of Sampoerna sebagai fasilitas produksi pertama dan utama untuk rokok-rokok Sampoerna. Dulunya, kompleks House of Sampoerna disebut dengan Pabrik Taman Sampoerna, dan sampai sekarang pabrik tersebut masih beroperasi hingga kini. Lebih Dalam dengan Kompleks S...

Sadar Budaya oleh Debu Nusantara

“Ya jangan kaget lah kalau budaya kita disabet negara lain, lha wong rakyatnya aja nggak peduli kok,” begitu celetuk Jumadi, seorang budayawan dari Malang. Ia menuturkannya dengan raut muka prihatin, sambil bersandar di salah satu dahan pohon di Hutan Kota Malabar pada Minggu sore, 28 Oktober 2012 silam. Anggota diskusi Debu Nusantara  http://ifomie.com/wp-content/uploads/2013/03/debu-nusantara-v1-e1362977256906.jpg Jumadi tidak sendiri. Ia duduk bersila di depan segelintir pemuda-pemuda yang meluangkan waktunya untuk mengikuti diskusi dwi mingguan yang diadakan oleh Debu Nusantara, sebuah kolektif berbasis folklore (cerita rakyat, red). Rindangnya pepohonan Hutan Kota Malabar senja itu mengantarkan Jumadi dan rekannya Yongki Irawan, yang juga seorang budayawan menuturkan pemikiran segar mereka tentang esensi budaya Indonesia. Jumadi, bertutur banyak tentang dongeng Mpu Sendok, Airlangga, Kilisuci, Gunung Kelud, dan Suro, sebagai bulan yan diperingati oleh orang J...

PJTL Bagian 5: Anak-anak Lalin

Cerita sebelumnya klik PJTL bagian 4: Angkringan “Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini".”― Pramoedya Ananta Toer Tommy Apriando   (diambil dari facebook) Pemateri setelah Bung Imam didatangkan dari Yogyakarta. Namanya Tommy Apriando. Ia lebih muda dari Bung Imam. Peserta kompak memanggilnya Mas Tommy. Sesuai dengan tulisan di banner yang dipasang di ruangan, Tommy Apriando adalah seorang reporter sebuah situs lingkungan yang sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya: Mongabay Indonesia. Berbeda dengan Bung Imam secara fisik yang bertubuh kecil dan memiliki suara lirih pula, Mas Tommy bertubuh besar dan bersuara berat. Materi pertama yang ia sampaikan adalah Sepuluh Elemen Jurnalisme-nya Bill Kovach dan Tom Rosentiel. “Awalnya Bill Kovach dan Tom Rosentiel menuliskan sembilan elemen jurnalisme sebagai tolak ukur kinerja para j...

PJTL bagian 4: Angkringan

Cerita sebelumnya klik PJTL bagian 3: Kedai Merah “Sebagian kita seperti tinta dan sebagian lagi seperti kertas. Jika bukan karena hitamnya sebagian kita, sebagian kita akan bisu. Dan jika bukan karena putihnya sebagian kita, sebagian kita akan buta.” – Kahlil Gibran “Kalau kita ke Pasar Johar, jaraknya masih jauh lagi, sedangkan kita hanya diberi waktu satu jam untuk liputan. Gimana kalau kita menyebar di daerah sini saja, kalian bebas meliput apa saja yang penting lingkup temanya masih anak jalanan,” jelas Mas Edo ke peserta. “Kita nanti ketemu di lampu merah ini saja, setengah jam lagi” ringkas Mas Edo sambil melihat sekitar. Ni’mah yang tadi duduk di sebelah saya ketika di bus, memilih untuk mewawancarai ibu pengemis di tengah jalan. Saya memilih untuk putar arah. Masih belum menemukan siapa dan apa yang akan saya liput. Sampai akhirnya saya melihat pom bensin yang sudah tidak berfungsi dan ditutup oleh seng di sekeliling area itu. Seng yang dicat putih itu bertulis...

PJTL bagian 3: Kedai Merah

Cerita sebelumnya klik PJTL bagian 2: Bukan Andreas Harsono “Memang tak enak untuk mengingat-ingat bahwa kebahagiaan sering perlu uang yang terkadang amis dan tenaga kasar yang keringatnya berbau aneh. Kebahagiaan sering perlu sejumlah tetangga, yang tak jarang lebih miskin.” Goenawan Mohammad Kantin Udinus cukup ramai siang itu. Tiga orang perempuan berseragam hitam-merah sedang sibuk melipat kertas kardus sambil bercanda dengan rekannya. Saya menghampiri mereka ke salah satu warung. “Mbak, boleh minta waktunya sebentar? Saya peserta diklat jurnalistik, ditugaskan untuk interview narasumber di kantin Udinus. Sambil tetap bekerja saja mbak, jangan tegang, saya tanya yang ringan-ringan kok,” buka saya sambil tersenyum. Wajah ketiga perempuan yang awalnya kaget itu kemudian sedikit lentur, dan saya pun menyalami mereka satu per satu untuk mengenalkan diri. Hening karena kedatangan saya tadi berlalu seiring pertanyaan yang saya berikan. “Kok, jauh mbak kerjanya? Kenapa ...

Krisis Emosional Kader Muda Bangsa

‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ Begitu pepatah Indonesia bilang. Mungkin selayaknya pantas jika contoh realita peribahasa tersebut sekarang terjadi di negeri ini pula. Kaitannya jelas, berhubungan dengan pendidikan moral anak bangsa. Pada Oktober 2012 lalu, masyarakat kembali disuguhi kabar buruk tentang tawuran pelajar.  Pelajar yang pada hakikatnya bersaing di bangku sekolah mereka lewat prestasi karya-karya mereka, malah sibuk turun ke jalanan, saling pukul dengan pelajar lain. Hasilnya, para provokator tawuran ini, berurusan dengan pihak kepolisian. Dan karena proses penyidikan ini, tentu saja membuat pelajar yang menjadi tersangka terpaksa ‘cuti’ sekolah. Lebih mengerikan lagi, karena tawuran ini, satu pelajar tewas. Kompas dalam website nya megapolitan.kompas.com dengan beritanya yang berjudul “ Psikolog: FR dan AD Suka Tawuran Tapi Cerdas ” pada 5 Oktober 2012 mengulas tentang latar belakang kemampuan IQ kedua siswa yang menjadi pelaku utama tawura...

Mencicipi Manisnya Pujon Lewat Carang Mas Apel

Menyusuri Kota Malang rasanya tidak bisa dibatasi pada kunjungan setiap wahana, kebun teh, ataupun pantai. Tempat-tempat menarik di Kota Apel ini banyak yang belum terjamah oleh sebagian besar orang. Apalagi jika berbicara tentang kuliner, mungkin Malang hanya dikenal dengan keripik apelnya dan susu fermentasinya. Tapi, stereotip tersebut akan sepenuhnya hilang bila Anda mencoba menancap gas ke jalan berliuk-liuk, menukik, menurun, menuju ke arah Pujon. Jarak yang ditempuh antara Malang hingga Pujon sekitar 16 kilometer. Hawa dingin begitu terasa disini, karena ketinggian Pujon mencapai 1.100 meter diatas permukaan laut. Hamparan ladang dan sawah terlihat begitu asri di mata, menyejukkan. Ditambah dengan lebatnya sayuran dan buah apel yang tumbuh di sekitarnya. Suasana pedesaan yang amat kental pun begitu mendamaikan. Dibalik semuanya, Pujon memiliki potensi besar untuk mengembangkan perekonomian dengan aset hasil tanah suburnya.  Desa Madiredo, Pujon, adalah fokus utama te...

Daya Pikat Nama Arema

“Lukisan singa itu sering laku terjual. Orang-orang banyak yang tertarik karena singa itu lambang kebanggaan Arema,” tutur Anis, istri Hery, seorang penjual lukisan yang memberi nama usaha pigura dan lukisannya itu dengan nama Hery Arema. Hery di mata Anis adalah seorang fans berat klub sepakbola asal Kota Apel itu. Kata Arema, lebih dipahami oleh sebagian besar masyarakat sebagai akronim dari ‘Arek Malang’. Kata ini juga diidentikkan dengan nama salah satu klub sepakbola yang lahir di Kota Malang pada 11 Agustus, 25 tahun silam. Tidak ada pencatatan sejarah yang jelas dan terpercaya tentang pencetusan nama ini. Satu-satunya hal yang dapat dipastikan Arema di mata orang Malang dan Aremania (sebutan bagi fans Arema, red. ) di Indonesia   bukan hanya sebuah nama yang mewakili klub sepak bola yang memiliki lambang singa. Nama Arema telah menjadi identitas tersendiri yang melekat dalam setiap individu yang memuja-mujanya. Kefanatikan tentang Arema begitu terasa ketika menyusu...

Malang Corruption Watch

“Konsepsi advokasi adalah bukan mencampuri urusan dalam suatu permasalahan untuk mencari eksistensi, namun  kita lebih mengutamakan trust dan berperan untuk memberikan advice dan menjadi supporting system bagi mereka.” edukasi.kompas.com Penjelasan singkat tentang peran MCW sebagai badan advokasi tersebut diungkapkan oleh Koordinator MCW, Didit Saleh. Tak dapat dielakkan lagi jika peran MCW dalam problem solving terhadap permasalahan revitalisasi pasar Dinoyo cukup besar. Malang Corruption Watch atau lebih dikenal dengan sebutan MCW adalah sebuah lembaga yang bergerak di bidang monitoring K orupsi K olusi N epotisme (KKN) di Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang).   Lembaga yang di bentuk pada tanggal 31 Mei , 11 tahun silam ini b ermula dari komunitas diskusi para aktivis mahasiswa, mantan aktivis mahasiswa, dan beberapa dosen yang sudah berjalan sebelum reformasi 1998 . L embaga ini berdiri setelah mengalami proses diskusi i...