+ -

Pages

Thursday, August 30, 2012

ATRIBUT OSPEK: Kreativitas yang Dikomersialisasikan?

Variasi Atribut Ospek

Sekilas tentang atribut Ospek

Ritual Ospek atau lebih dikenal sebagai Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2 Maba) di Universitas Brawijaya kembali digelar tahun ini. Pemandangan yang kurang lebih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Universitas Brawijaya yang  saat ini menerima kurang lebih 15.000 mahasiswa baru kembali bersolek untuk menyambut upacara rutin tahunan ini. 

Seluruh elemen dilibatkan, terutama mahasiswa lama sebagai panitia pelaksana acara PK2 baik tingkat universitas maupun fakultas. Ritual lain yang tak lepas dari PK2 Maba yang diramaikan sekali setahun ini adalah atribut-atribut dan perlengkapan yang harus dibawa oleh mahasiswa baru, mulai dari nametag dengan warna tertentu, pita untuk kuncir rambut, topi, alas duduk, tas karung, dan masih banyak lagi. 

Panitia yang bertugas musti berpikir keras untuk mengarang perlengkapan dan atribut, mulai dari spesifikasi warna, ukuran, model yang pastinya semua itu harus dipenuhi oleh para mahasiswa baru ini. Jika tidak, panitia akan memberikan sanksi tersendiri dan berujung pada sertifikat kelulusan PK2. Sertifikat tersebut digunakan untuk syarat kelulusan perkuliahan mahasiswa selanjutnya.

Kreativitas itu dikomersialisasikan?

Pada dasarnya, pembuatan semua atribut dan perlengkapan bertujuan untuk memberikan identitas bagi mahasiswa baru yang sedang mengikuti rangkaian PK2 baik tingkat universitas maupun fakultas.  Namun, atribut dan perlengkapan yang diminta panitia sebagian besar sangat rumit dan sulit didapatkan sehingga menuntut para junior ini membuatnya sendiri. 

Maksud hati ingin melihat adik-adik berpikir kreatif dan mandiri, namun sayangngya ide tentang atribut dan perlengkapan itu berhasil dimanfaatkan oleh para penjual atribut Ospek yang setiap tahunnya berjajar di sepanjang Jalan Veteran. Memang pada dasarnya generasi muda Indonesia yang sangat gemar melakukan hal-hal praktis dan instan, tentu saja penjual atribut Ospek itu kebanjiran pesanan.

Alhasil, atribut dan perlengkapan Ospek berhasil mencetak mahasiswa baru yang bukan berpikiran kreatif dan mandiri seperti harapan panitia, melainkan berpikiran praktis dan instan sesuai dengan harapan penjual atribut Ospek Jalan Veteran.

Panitia dan pihak universitas sendiri tak mampu membendung penjual atribut Ospek tersebut yang semakin tahun semakin bertambah. Dan mahasiswa baru yang mindset-nya telah terinstankan oleh penjual atribut Ospek tersebut akan terus membanjiri trotoar Veteran, sembari merogoh uang yang cukup banyak. Tentu saja, dibanding dengan membuat sendiri, membeli lebih mahal. Momen seperti inilah yang menjadi rezeki tersendiri bagi para penjual atribut Ospek. 

Seperti jatuh tertimpa tangga pula, lagi-lagi mahasiswa baru yang menjadi korban pembodohan ini. Sudah lelah memikirkan keperluan yang diminta panitia, masih juga harus mengikhlaskan uang bekal mereka untuk membeli atribut dan perlengkapan. Padahal, mengingat sejak awal masuk kampus, biaya pendidikan yang harus dipenuhi mahasiswa telah dipatok sangat tinggi. Ah, nasib maba…


Esensi Ospek dan atributnya (sebenarnya bagaimana?)

Jika berpikir secara fungsional, sebenarnya, atribut dan perlengkapan Ospek yang dibuat sendiri atau pun dibeli dengan harga lebih mahal tersebut hanya akan digunakan selama PK2 berlangsung. Setelah itu, useless. Dan jika dibalikkan pada keadaan awal, mengapa atribut dan perlengkapan yang rumit dan mahal itu selalu dihadirkan? Sedangkan atribut dan perlengkapan tersebut secara akademis, tentu saja tidak ada pengaruhnya. 


Maba Fakultas Teknik Universitas Brawijaya mengecek ulang barang bawaan mereka

Dilihat dari segi ekonomis, juga mungkin tidak ada, karena tidak mungkin setelah mahasiswa baru memakainya, kemudian akan dijual kembali. Malah, dengan adanya atribut dan perlengkapan Ospek yang rumit dan mahal ini merupakan pressure tersendiri bagi mahasiswa baru, mengingat ancaman-tidak-dapat-sertifikat itu terus menghantui.

Ajang pengenalan kehidupan kampus ini akan selalu berotasi setiap tahunnya. Dan mahasiswa baru berikutnya mungkin akan mengalami hal yang sama. Sungguh pemandangan yang sangat monoton, tak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Termasuk kelengkapan atribut yang rumit dan mahal itu. Pendidikan tinggi yang biayanya semakin menjulang itu semakin ditambah dengan komersialisasi atribut Ospek merupakan fenomena yang sangat kontras dengan pentingnya kebutuhan pendidikan bagi seluruh generasi muda.

Keadaan ini akan menjadi bertambah buruk karena efek pemikiran mahasiswa yang akhirnya cenderung berpikir instan karena adanya komersialisasi tersebut, tanpa mengerti esensi dasar dari seluruh rangkaian pengenalan kehidupan kampus yang mereka jalani. Dan kesimpulan akan Ospek adalah selalu menjadi momen menakutkan dan menyengsarakan yang tetap bersarang dalam pemikiran mereka.


Kritisasi ini akhirnya berujung pada sebuah himbauan untuk berpikir solutif dan bermanfaat. Tradisi ritual Ospek beserta atributnya ini akan terus berlanjut seperti fenomena tersebut jika generasi-generasi muda tidak mampu menyumbangkan gebrakan berarti. Dan komersialisasi kreativitas ini akan terus berkembang, memenuhi cabang-cabang seluruh institusi pendidikan tinggi dan mungkin saja akan berkembang di tingkat pendidikan dibawahnya. Haruskah? Yang tentu, jangan biarkan.

Terus berkaryalah para mahasiswa ! Kreativitas kalian adalah kemajuan bangsa.



(Opini ini telah diterbitkan dalam Jurnal PKK Maba 2012 LPM Kavling 10 Edisi Kamis, 30 Agustus 2012 dan telah diunggah pada blog Kavling 10).


5 Elyvia Inayah: ATRIBUT OSPEK: Kreativitas yang Dikomersialisasikan? Variasi Atribut Ospek Sekilas tentang atribut Ospek Ritual Ospek atau lebih dikenal ...

2 comments:

  1. Saya benci OSPEK. Suami saya pelaku OSPEK. Jadi kami sering berdebat tentang OSPEK. Buat saya, ospek itu feodalisme gaya baru. Junior menghamba ke senior. Senior berbuat semaunya ke junior. Yang junior dibuat takut untuk patuh. Senior, berasa balas dendam karena pernah diperlakukan sama. Jadi ospek mah menurut saya lingkaran setan. gak ada pentingnya, ga ada bagusnya selain bikin takut & keluar duit ga perlu. Bilangnya sih biar kompak. Tapi kok caranya gitu amat ya. Suami saya bilang sih ospek sekarang berbeda dengan ospek jaman dia dulu kuliah. Buat saya sama saja: feodalisme akademisi :D

    ReplyDelete
  2. sebenernya ospek bagus untuk melatih mental,keberanian,dan semangat juang,ya..disinilah tantangan untuk siswa baru,tapi mahasiswa senior harusnya juga jgn terlalu keterlaluan,tetap menghargai HAM dan yang pasti tetap mengusahakan bagi kepentingan maba

    ReplyDelete

< >