Skip to main content

Posts

Kavling 10, Media Perdana, Tanggung Jawab Kedua

Sebelumnya, aku telah menceritakan tentang organisasi yang menjadi kesibukanku selain mengenyam mata kuliah di kampusku. Yah, Unit Aktivitas Pers Kampus UB, yang lebih dikenal dengan kavling 10. Hampir setahun. Agenda diskusiku di kavling yang pada awalnya hanya tiba di setiap hari jumat, kini menjadi setiap hari. Bukan diskusi lagi pada tepatnya, namun lebih formal disebut rapat. Bukan lagi rapat yang diikuti oleh semua anggota, namun diikuti oleh pengurus internal kavling 10. Yah, benar, aku telah menjadi pengurus. Dipilih langsung oleh Pemimpin Umum, aku yang belum setahun berkontribusi di organisasi ini, diberi kepercayaan untuk meng-handle media. ‘Kavling 10’ nama media itu. Media yang baru pertama kali dilahirkan di kepengurusan kali ini. Media berbentuk bulletin, didistribusikan ke seluruh fakultas setiap dua bulan sekali. Hari pertama pasca menyandang jabatan berat sebagai pemimpin redaksi, dengan bekal pas-pasan, rapat redaksi perdana aku ...

Tentang Kavling, Tentang Keluarga Keduaku

Pamflet Open Recruitment UAPKM UB tahun 2010 Entah dimulai darimana cerita tentang sebuah organisasi yang menjelma menjadi keluarga keduaku kini. Yang aku ingat, mata dan pikiranku terpaku pada sebuah pamflet abu-abu berlogo jari telunjuk mengacung keatas, diatasnya bertuliskan makna dari pemasangan pamflet itu : Open Recruitment Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa UB Kavling 10. Pamflet itu terpasang di suatu sudut ruangan, berlomba dengan pamflet-pamflet lain di jajaran ruang-ruang kecil, yang mereka kenal baik dengan sebutan kavling. Kavling 10, sekretariat bersama mahasiswa yang menerjunkan dirinya dalam kecimpung organisasi yang berbasis pada jurnalistik, disitulah tempatku memutuskan diri untuk menyerahkan formulir dan tugas wajib yang mereka syaratkan untuk mahasiswa pendaftar. Kavling ini, yang ada di benakku pertama kali, terkesan sempit. Tumpukan koran langganan mereka meninggi hingga menyentuh batas bawah whiteboard, sebuah mading yang terpasang sekedarnya dipenuhi b...

Ketidak biasaan itu…berakhir cinta…

Adalah seorang gadis belia yang beranjak dewasa. Kesepian dan hanya mengarahkan hidupnya hanya untuk tujuan pastinya, yakni merampungkan masa studi wajibnya, (dalam peraturan keluarganya)mulai dari sekolah dasar hingga lulus sarjana. Gadis belia ini hanya gadis biasa. Hingga pada suatu waktu, ketika ia mengenyam pendidikan di sebuah universitas bergengsi di propinsinya, ia mulai memperluas pergaulannya. Tujuan utamanya tetap tak berubah, mencari pendidikan baik di bangku perkuliahan maupun dalam sebuah forum organisasi. Gadis belia ini tetap saja seperti gadis biasa. Di sebuah unit kegiatan mahasiswa di kampusnya, yang berbasis jurnalisme, gadis ini mulai merintis karirnya dalam berorganisasi. Minatnya untuk mendalami dunia kuli tinta ini tak main-main. Ia terus menerus mengasah kemampuannya. Ia juga mencoba mengenal banyak mahasiswa dari berbagai fakultas lain di forum itu. Dan dalam kurun waktu yang singkat, ia merasakan kenyamanan yang tak ia pernah ia dapatkan dimanapun, sekali pun...

Teng !

Jam menunjukkan pukul 0 tepat. Mungkin bagi sebagian besar orang, tiada yang istimewa tentang pergantian hari ini. Bahkan tak ada yang peduli. Mungkin, mereka yang merasa tak punya kepentingan, sedang menikmati istirahat mereka , komplit dengan jamuan mimpi-mimpi yang mereka visualisasikan lewat dunia lain. Tapi, tidak dengan aku. Hari ini, yaahh...tak seperti biasanya...aku belum bisa merapatkan kedua kelopak mataku seperti yang lain. Entah. Aku mengecek handphone yang bergeletakan sembarangan di kasurku. Tak ada pesan masuk. Lalu iseng memilih menu calendar, dan kulihat, angka hari esok di-bold. 11 Januari, ku pilih tombol description. My Anniversary 18. Fuuhh... Aku menghembuskan nafasku berat. Tak terasa, esok tanggal 11 Januari, lagi! Bagi sebagian orang, tak ada yang spesial memang...toh hari ulang tahun itu malah menandakan bahwa kita semakin beranjak dewasa (tua, tepatnya). Dan hari itu tak jauh beda dengan hari-hari biasanya, sama saja, y...

Sehelai Sajak Saputangan

Hapuslah air matamu, saudaraku Dari kejauhan akan ku tenangkan guncangan jiwamu Tak usah kau bayangkan lagi Amukan tanahmu yang tak karuan Dentuman-dentuman bak meriam dari perut mereka Muntahan asap hitam menggila… Tak usah kau ratapi lagi Tangisan putra-putrimu yang telah dibungkam gulungan ombak lautan Jiwa bapak ibumu yang telah ditelan gejolak bebatuan Sssttt…diam… Berhentilah menyesakkan masa lalu dalam dada Jangan katakan bahwa esok tiada senja Alihkan pandanganmu, saudaraku Lihatlah Disana masih tumbuh sebatang ilalang Menari-nari gemulai mengikuti alunan angin Sesekali menerbangkan kapas putih Ia masih bertahan... Dan kau, saudaraku Kau akan ku yakinkan tetap bertahan Sebab disini, di seberang perbatasan yang tak kau ketahui Akan ku coba padamkan kegetiran hidupmu, kekalutan duniamu Dengan sesuatu yang akan dihembuskan Tuhan lewat pekatnya malam , kiriman doaku yang tak putus-putus…………...