+ -

Pages

Thursday, April 25, 2013

Catatan Akhir Sekolah




Sebuah film karya sutradara kondang Hanung Bramantyo yang rilis pada tahun 2005. Film bergenre drama ini menceritakan tentang kehidupan sehari-hari para murid dan guru di sebuah sekolah menengah atas di Jakarta. Diperankan oleh tiga aktor utama: Raymond Y. Tungka (sebagai Agni), Vino G. Bastian (sebagai Arian), dan Marcel Candrawinata (sebagai Alde) yang kemudian ketiga pemeran utama ini diceritakan bersahabat baik dalam lakonnya.

Agni dikenal sebagai pencetus ekskul film di sekolahnya, Arian adalah pengurus mading sekolah, sedangkan Aldo, lelaki primadona yang selalu dikejar para gadis. Masa sekolah mereka diceritakan hampir usai karena Agni, Arian, dan Alde adalah murid kelas tiga yang akan menghadapi ujian. Namun, ketiga siswa ini tidak digambarkan sedang mempersiapkan bekal ujian mereka, melainkan lebih mempersiapkan pesta perpisahan untuk murid kelas tiga yang akan digelar setelah ujian. Promnite mereka menyebut pesta itu.

Ketiga sahabat ini akhirnya punya ide untuk membuat film dokumenter sekolah sebagai persembahan pada perayaan promnite nanti. Garis besar film ini terletak pada usaha mereka merancang film dokumenter ini. Mereka beri judul film mereka: Catatan Akhir Sekolah.

“…Karena seumur hidup kita di sekolah itu konkritnya cuma nyatet, nyatet, dan nyatet…” - Arian  
Film yang sudah mereka temukan judulnya ini ternyata belum menemukan konsep matang tentang alur cerita yang akan mereka berikan pada film mereka. Konflik pun terjadi. Agni menganggap kedua sahabatnya tidak serius dalam pengerjaan film mereka ini memutuskan untuk mengerjakannya sendiri. Namun ia malah fokus dengan kisah cintanya dengan Alina (Joanna Alexandra) yang tiba-tiba menaruh simpati lagi terhadapnya.

Arian dan Alde berdiam menunggu hasil dari Agni yang tidak kunjung datang, karena sebenarnya, tanpa sepengetahuan mereka, Agni sedang mengajak Alina jalan. Kelanjutan proyek film dokumenter mereka pun makin tidak jelas hingga suatu hari Alde dihajar preman karena ia ketahuan merekam kelakuan preman yang sedang malak beberapa murid di luar sekolah. Alde mengalami patah tulang dan lebam di seluruh wajah.



Sejak kejadian yang menimpa Alde itu akhirnya Arian dan Agni mulai bersatu lagi untuk serius mengerjakan film dokumenter mereka. Mereka bertiga bekerjasama dengan murid kelas satu dan dua untuk mengambil gambar-gambar yang mereka konsepkan.

Promnite pun tiba. Film karya A3 (Arian, Agni dan Alde) ini ditonton oleh seluruh siswa dan guru yang hadir dalam promnite tersebut. Film dokumenter ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kegiatan siswa di sekolah, percintaan remaja, dan yang terakhir tentang harapan dan cita-cita para siswa setelah lulus. Setelah ditayangkan, film ini pun sukses mendapat respon positif dari para penontonnya.

Di Indonesia, film yang bertemakan kehidupan remaja SMA begitu banyak dijadikan ide cerita. Mayoritas menyoroti kisah asmara versi anak SMA, disamping bahasa gaul yang digunakan, gaya hidup, serta kehidupan keseharian mereka di sekolah. Tak ayal, film-film bertema SMA yang sering diperankan oleh artis ibukota ini menjadi tolak ukur tersendiri bagi kehidupan remaja SMA di kota-kota lain.

Konstruksi sosial akhirnya terbentuk pada mindset remaja saat ini bahwa anak-anak gaul di SMA adalah anak-anak yang memakai bahasa lo gue, bahwa anak-anak gaul SMA itu memakai seragam yang dikeluarkan, bagi laki-laki merokok adalah identitas kejantanan dan bagi perempuan memakai rok mini adalah seksi. Fenomena seperti ini terus dimaknai positif oleh sebagian remaja dan diyakini hingga kini.

Film Catatan Akhir Sekolah ini dikemas begitu natural dan nyata, tidak disensor dan lolos tayang di seluruh bioskop di Indonesia. Kurang adanya sensor ini juga menimbulkan kontroversi sendiri jika dikaitkan dengan kode etik perfilman Indonesia yang sangat menjunjung tinggi etika dan kesopanan ala budaya dalam negeri yang diyakininya.

Terlepas dari konstruksi sosial, stereotype, dan kekurangan yang ada dalam film Catatan Akhir Sekolah ini, pada nyatanya, film ini telah menginspirasi bagi sebagian besar siswa SMA bahkan SMP untuk mempelajari cara membuat film. Mulai dari membuat konsep, skrip, teknik pengambilan gambar, hingga proses editing ditunjukkan dalam film ini.

Believe it or not, sejak adanya film Catatan Akhir Sekolah ini banyak sekolah-sekolah yang berlomba membuat acara pesta perpisahan sekolah dengan suguhan film dokumenter untuk mengenang kehidupan mereka selama belajar di SMA. Film dokumenter pun akhirnya menjadi trendsetter baru selain buku tahunan sekolah.

Dilihat dari penguasaan pembuatan film, karya anak negeri ini sebenarnya tidak kalah dengan karya bangsa lain, hanya saja, di Indonesia ide cerita yang diusung terlalu monoton mengikuti kehidupan sosial yang ada.

Lalu, apa lagi yang musti diragukan dari karya anak negeri ini?   

 
      
5 Elyvia Inayah: Catatan Akhir Sekolah Sebuah film karya sutradara kondang Hanung Bramantyo yang rilis pada tahun 2005. Film berge...

2 comments:

  1. dunia perfilman kayaknya masih bnyk yg menganut paham modern, dmna dunia SMA digambarkan standart dgn seragam rok mini, siswa merokok, dan promnite dan sejenisnya *mabuk CS*

    ReplyDelete
  2. dari semua film tentang dunia SMA di taun 2000-an, film AADC & film Cataan Akhir Sekolah (CAS) ini menurut saya yang paling buagus. Seting ceritanya biasa, tapi kontennya segar. Nonton CAS bikin pengen balik SMA lagi & ngerekam semua momen waktu sekolah. Yang bikin filmnya jagoan sih kata saya. Filmnya biasa, tapi kalo digarap dengan sangat baik terbukti bisa bikin penonton bahagia begitu beres nontonnya. Seenggaknya saya yang bahagia :D Soundtracknya juga cocok. Love it.

    ReplyDelete

< >